Hal Penting yang Perlu diperhatikan agar Budidaya Udang Bisa Panen Maksimal

Hal Penting yang Perlu diperhatikan agar Budidaya Udang Bisa Panen Maksimal

Sukses dalam budidaya udang bukan hanya memberi pakan dan menunggu panen datang. Ada 5 hal penting yang harus diperhatikan agar budidaya bisa panen dengan maksimal

1) Cek Kualitas Air Secara Rutin

Kualitas air merupakan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan, kesehatan, dan kelangsungan hidup udang selama proses budidaya. Beberapa parameter utama yang perlu dipantau secara rutin antara lain suhu, pH, oksigen terlarut (DO), salinitas, dan amonia. Kelima parameter ini sangat berperan dalam menjaga kestabilan lingkungan tambak dan mendukung performa pertumbuhan udang.

Suhu sangat penting dalam budidaya karena mempengaruhi pH dan DO sehingga akan berdampak ada proses metabolisme, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup udang. Suhu optimal untuk budidaya udang berkisar 28-32℃. pH mempengaruhi proses biologis dan kimia dalam tambak. Nilai pH optimal adalah 7,5–8,5. pH yang tidak stabil dapat menyebabkan stress dan menurunkan daya tahan tubuh udang. Oksigen terlarut (DO) penting untuk respirasi udang dan aktivitas mikroorganisme. Nilai DO harus > 4 mg/L karena kekurangan oksigen bisa menyebabkan udang lemas hingga mengalami kematian. Salinitas atau kadar garam ideal untuk udang adalah 15–25 ppt. Perubahan salinitas yang drastis seperti akibat hujan atau penguapan, bisa mengganggu keseimbangan tubuh udang. Amonia berasal dari sisa pakan dan kotoran. Kadar amonia yang tinggi bersifat racun dan dapat merusak insang udang. Batas optimal amonia pada budidaya adalah <0,1 mg/L. Pengelolaan pakan yang baik dan pembersihan dasar kolam sangat penting untuk mencegah akumulasi amonia.

2) Gunakan Benur yang Berkualitas

Kualitas air merupakan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan, kesehatan, dan kelangsungan hidup udang selama proses budidaya. Beberapa parameter utama yang perlu dipantau secara rutin antara lain suhu, pH, oksigen terlarut (DO), salinitas, dan amonia. Kelima parameter ini sangat berperan dalam menjaga kestabilan lingkungan tambak dan mendukung performa pertumbuhan udang.

Suhu sangat penting dalam budidaya karena mempengaruhi pH dan DO sehingga akan berdampak ada proses metabolisme, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup udang. Suhu optimal untuk budidaya udang berkisar 28-32℃. pH mempengaruhi proses biologis dan kimia dalam tambak. Nilai pH optimal adalah 7,5–8,5. pH yang tidak stabil dapat menyebabkan stress dan menurunkan daya tahan tubuh udang. Oksigen terlarut (DO) penting untuk respirasi udang dan aktivitas mikroorganisme. Nilai DO harus > 4 mg/L karena kekurangan oksigen bisa menyebabkan udang lemas hingga mengalami kematian. Salinitas atau kadar garam ideal untuk udang adalah 15–25 ppt. Perubahan salinitas yang drastis seperti akibat hujan atau penguapan, bisa mengganggu keseimbangan tubuh udang. Amonia berasal dari sisa pakan dan kotoran. Kadar amonia yang tinggi bersifat racun dan dapat merusak insang udang. Batas optimal amonia pada budidaya adalah <0,1 mg/L. Pengelolaan pakan yang baik dan pembersihan dasar kolam sangat penting untuk mencegah akumulasi amonia.

3) Jangan Overfeeding

Overfeeding dapat menurunkan kualitas air, meningkatkan risiko penyakit, dan menyebabkan pemborosan biaya produksi. Sisa pakan yang tidak termakan akan terakumulasi di dasar tambak dan memicu peningkatan kadar amonia, nitrit, serta nitrat yang berbahaya bagi udang. Selain itu, penumpukan sisa pakan dapat menurunkan DO yang menyebabkan stress dan menurunkan tingkat kelangsungan hidup udang.

Oleh karena itu, petambak harus menerapkan manajemen pemberian pakan yang baik, seperti:

  • Menyesuaikan jumlah pakan dengan stadia dan ukuran udang.
    Pemberian pakan harus mengikuti biomassa udang, fase pertumbuhan, dan nilai Feed Conversion Ratio (FCR) berdasarkan hasil sampling.
  • Memberikan pakan dalam frekuensi yang tepat.
    Pada awal budidaya (DOC 1–30), pakan diberikan 4–5 kali per hari dalam jumlah kecil agar mudah dicerna dan tidak mengendap. Setelah itu, frekuensi pemberian pakan dapat dikurangi menjadi 3–4 kali, tergantung respons makan udang.
  • Menggunakan feeding tray (anco).
    Feeding tray membantu memantau nafsu makan udang secara langsung. Dengan melihat sisa pakan di anco, petambak dapat menyesuaikan jumlah pemberian pakan selanjutnya. Pemantauan ini penting untuk mencegah overfeeding, menjaga kualitas air, serta menghemat biaya pakan.
4) Perhatikan Fase Molting

Molting adalah proses pergantian cangkang atau eksoskeleton yang secara alami terjadi dalam siklus pertumbuhan udang. Pada fase ini udang sangat rentan terhadap stress dan infeksi penyakit. Pencegahan dan solusi yang dapat dilakukan saat fase molting ini yaitu dengan memastikan kecukupan mineral dan nutrisi melalui pakan maupun suplemen tambahan, menjaga kestabilan kualitas air dengan pemantauan parameter utama seperti pH, suhu, DO, dan salinitas, serta monitoring rutin kesehatan udang dengan melakukan observasi perilaku dan frekuensi molting. 

5) Hindari Penggunaan Antibiotik

Penggunaan antibiotik dalam budidaya udang sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan resistensi bakteri, meninggalkan residu berbahaya pada tubuh udang, dan merusak keseimbangan lingkungan tambak. Sebagai alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan, petambak disarankan menggunakan bahan alami seperti probiotik, imunostimulan, atau ekstrak tanaman untuk mendukung kesehatan udang. Penggunaan probiotik secara rutin dapat membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme di kolam, meningkatkan daya tahan tubuh udang, serta memperbaiki kualitas air selama masa pemeliharaan.