Molting Udang di Fase Bulan Purnama: Ancaman Tersembunyi bagi Petambak

Molting Udang di Fase Bulan Purnama: Ancaman Tersembunyi bagi Petambak

Pada budidaya udang, fase bulan purnama sering dikaitkan dengan peningkatan kematian udang secara mendadak. Salah satu penyebab utama dari fenomena ini adalah proses molting, yakni pergantian cangkang atau eksoskeleton yang secara alami terjadi dalam siklus pertumbuhan udang. Molting menandai bahwa udang sedang tumbuh, tubuhnya bertambah besar sehingga memerlukan cangkang baru yang lebih sesuai. Meskipun termasuk proses fisiologis yang normal, molting justru menjadi fase paling rentan dalam kehidupan udang, terutama jika terjadi dalam kondisi lingkungan yang tidak mendukung  (Yulihartini et al. 2017). 

Apa hubungan antara fase bulan purnama dan meningkatnya frekuensi molting pada udang?

Molting pada udang sering terjadi bertepatan dengan fase bulan purnama. Menurut Mahdaliana et al. (2022), fenomena ini dapat dijelaskan melalui beberapa faktor utama, yaitu:

  • Pasang surut air laut meningkat saat bulan purnama. Saat bulan purnama, gaya tarik gravitasi bumi dan matahari berada di titik maksimum, yang menyebabkan terjadinya pasang surut. Perubahan ini tidak hanya mempengaruhi volume air, tetapi juga kualitas air (suhu, salinitas, oksigen terlarut). Kondisi lingkungan yang dinamis ini dapat menjadi pemicu fisiologis bagi udang untuk memulai proses molting.
  • Pengaruh hormon ecdysteroid. Molting pada udang dikendalikan oleh hormon ecdysteroid. Saat fase bulan purnama, kadar hormon ini cenderung meningkat dan mencapai puncaknya, sehingga memicu proses pergantian kulit. Peningkatan hormon tersebut diduga tersinkronisasi dengan siklus bulan, sehingga molting lebih sering terjadi pada periode ini.
  • Perubahan Lingkungan. Perubahan lingkungan sangat mempengaruhi perilaku dan fisiologi udang, termasuk dalam proses molting. Beberapa faktor lingkungan yang berperan antara lain intensitas cahaya, suhu, tekanan air, salinitas, dan pH. Kelima faktor ini perlu dijaga tetap stabil agar proses molting berlangsung secara optimal.

Saat proses molting berlangsung, udang berada dalam kondisi yang sangat rentan. Beberapa hal yang terjadi ketika udang sedang mengalami fase molting, antara lain

  1. Eksoskeleton yang belum mengeras membuat udang lebih mudah terluka atau rusak.
  2. Peningkatan risiko kanibalisme, karena udang yang baru molting menjadi target yang lemah.
  3. Penurunan nafsu makan akibat energi difokuskan pada proses pergantian kulit.
  4. Kerentanan terhadap infeksi patogen seperti Vibrio spp. meningkat tajam

Namun, bukan proses molting itu sendiri yang menyebabkan kegagalan atau kematian, melainkan kondisi lingkungan yang tidak mendukung, terutama di tambak dengan manajemen yang kurang optimal.

Kegagalan molting terjadi ketika udang tidak mampu menyelesaikan proses pergantian eksoskeleton secara sempurna. Kondisi ini dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat hingga kematian. Beberapa faktor utama yang menyebabkan kegagalan molting antara lain:

  • Kekurangan mineral, khususnya kalsium, magnesium, dan fosfor yang dibutuhkan untuk pembentukan eksoskeleton baru
  • Kualitas air yang buruk, termasuk fluktuasi pH, ammonia, dan rendahnya kadar oksigen terlarut
  • Stres lingkungan, seperti suhu ekstrem, pergantian air mendadak, atau kepadatan populasi yang terlalu tinggi pada tambak.

Kondisi-kondisi tersebut menimbulkan stress fisiologis yang dapat mengganggu keseimbangan hormonal dan metabolisme udang, sehingga molting tidak berlangsung sempurna.

Strategi pencegahan kegagalan molting

Proses molting sangatlah penting untuk pertumbuhan udang, beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan pencegahan kegagalan molting adalah:

  1. Memastikan kecukupan mineral dan nutrisi melalui pakan maupun suplemen tambahan
  2. Menjaga kestabilan kualitas air dengan pemantauan parameter utama seperti pH, suhu, DO, dan salinitas
  3. Monitoring rutin kesehatan udang dengan melakukan observasi perilaku dan frekuensi molting

Pemberian mineral dan vitamin yang tepat mampu mencegah kegagalan molting, meningkatkan pertumbuhan, dan meningkatkan kelangsungan hidup udang  (Yulihartini et al. 2017).  Micromin V merupakan salah satu inovasi dari AQUBETA yang diformulasikan khusus dari vitamin dan mineral  seperti kalsium (Ca), fosfor (P), magnesium (Mg), kalium (K), besi (Fe), dan sianokobalamin (Vit B12), yang memiliki berbagai manfaat yaitu:

  • Mendukung kesehatan dan pertumbuhan optimal udang vaname
  • Mendukung pembentukan cangkang yang kuat
  • Meningkatkan keseimbangan ion pada udang
  • Membantu metabolisme secara enzimatis untuk pertumbuhan

Penggunaan Micromin V secara teratur, bersamaan dengan manajemen tambak yang baik, dapat menjadi strategi efektif untuk mengurangi angka gagal molting dan meningkatkan produktivitas budidaya udang.

Sumber:

Mahdaliana M, Salamah S, Muliani M. 2022. The effectiveness of ecdysteroid hormones through feed in increasing growth and reproductive performance of mangrove crab (Scylla sp). Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal. 1(1): 6-11.

Yulihartini W, Rusliadi, Alawi H. 2017. Effect of adding calcium hydroxide Ca(oh)2 on molting, growth and survival rate vannamei shrimp (Litopenaeus Vannamei). Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. 4(1) : 1-12.

 

Penulis : Iin Nur Fadilah, S.Pi.