Waspada Vibrio Saat Musim Hujan: Tantangan dan Solusi Aman untuk Tambak Udang

Waspada Vibrio Saat Musim Hujan: Tantangan dan Solusi Aman untuk Tambak Udang

Musim hujan menjadi tantangan besar bagi petambak udang karena perubahan lingkungan yang drastis dapat mengganggu stabilitas kualitas air. Hujan memiliki suhu 5–6°C lebih rendah dari lingkungan dan bersifat asam lemah (pH 6,2–6,4) akibat pelarutan CO₂, sehingga menurunkan suhu dan pH tambak. Pengenceran oleh air hujan juga menurunkan salinitas dan kesadahan akibat berkurangnya konsentrasi ion, mengganggu keseimbangan osmotik udang dan memicu stres. Selain itu, limpasan tanah meningkatkan padatan tersuspensi dan kekeruhan, menghambat penetrasi cahaya serta menurunkan populasi organisme fototrofik secara tiba-tiba. Kondisi tidak stabil ini menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan Vibrio sp., bakteri penyebab penyakit yang dapat menimbulkan kematian massal pada udang.

Bakteri Vibrio berkembang pesat saat kondisi lingkungan tidak stabil, terutama di musim hujan ketika sisa pakan dan kotoran meningkat. Penurunan suhu air hingga 3–5°C memperlambat metabolisme udang dan membuatnya stres, sedangkan pH rendah serta kematian fitoplankton menurunkan kadar oksigen terlarut (DO). Pengenceran air juga menurunkan salinitas dan kesadahan, menghambat proses pengerasan cangkang pasca-molting dan meningkatkan risiko infeksi sekunder. Kombinasi perubahan suhu, pH, oksigen, dan ion ini menjadikan tambak lebih rentan terhadap serangan Vibrio sp., yang menyebabkan udang lemas, nafsu makan menurun, dan munculnya bercak kemerahan pada tubuh.

Upaya pencegahan terhadap infeksi Vibrio perlu dilakukan melalui pengelolaan kualitas air secara konsisten, termasuk pemantauan parameter suhu, pH, salinitas, dan DO. Penggunaan desinfektan ramah lingkungan seperti kaporit dosis rendah atau oksidator ringan dapat membantu menekan pertumbuhan bakteri patogen, sementara aerasi tambahan diperlukan untuk mencegah stratifikasi suhu serta mempertahankan kadar oksigen terlarut. Pengelolaan dasar tambak yang baik serta penerapan probiotik juga dinilai efektif dalam menjaga keseimbangan mikrobiota perairan dan mendukung ketahanan udang selama musim hujan.

Pendekatan biologis melalui probiotik semakin banyak dipertimbangkan karena dianggap lebih berkelanjutan dan aman bagi lingkungan. Probiotik bekerja dengan menekan dominasi bakteri patogen melalui kompetisi ruang dan nutrisi, sekaligus mendukung kesehatan saluran pencernaan serta sistem imun udang. Penerapan manajemen kualitas air yang efektif, probiotik secara teratur, serta pengendalian pakan yang tepat berpotensi mempertahankan stabilitas ekosistem tambak di musim hujan. Melalui pendekatan ini, risiko serangan Vibrio dapat diminimalkan dan performa budidaya tetap terjaga.